Cari Blog Ini

Sabtu, 13 April 2013

Puisi “ yang hilang”




Menunggu matahari membangunkanku dari tidurku
Menyalakan api-api kecil
Sampai semua hilang
Tak berbekas
Mencoreng sedikit sajianku
Menanyai matahari
Apakah sebuah bulan 
Sempurna tanpa matahari?

Puisi “ yang hilang”




Menunggu matahari membangunkanku dari tidurku
Menyalakan api-api kecil
Sampai semua hilang
Tak berbekas
Mencoreng sedikit sajianku
Menanyai matahari
Apakah sebuah bulan 
Sempurna tanpa matahari?

Puisi “rindu”




Memainkan bahasa dari alam-alamku
Mencoba membuat bulan terjatuh
Dan kugambar
Diatas kanvas dan secarik kertas
Ataukah
Waktu sudah akan habis
Dan tidak tersisa lagi
Untuk mengenangmu

Puisi “gelangku”




Terompet memainkan nadanya
Ditemani irama-irama kaki
Bulan ini
Tatkala ayam berkokok
Memperingatiku
Jangan lupa
Bila pagi datang
Seikat janji
Gelang  untukku
Menunggu giliran malam datang
Setelah bunga-bunga beguguran 

Puisi “Dalam Ruangan”



Membangun setitik hujan
Dari tetesan- tetesan air mata
Hingga ditiupnya terompet pertanda untukku
Inilah hariku 
Dan tak ada tempat untukku lagi
Sesak
Sesak kurasa dalam ruanganku ini
Menjerit pun tak diperbolehkan
Sampai aku pun dihitung
Layakkah aku disisimu 

puisi "Aku adalah aku"




Bunga-bunga menari di atas medan tempur
Memberi sujudmu
Dan memohon ampun
Menuggu sang pemilik
Melindungi budaknya
Dan memberiku makan
Serta mencambukku
Dengan sedikit torehan emas
Membangun matahari dari air mata

puisi "Aku adalah aku"




Bunga-bunga menari di atas medan tempur
Memberi sujudmu
Dan memohon ampun
Menuggu sang pemilik
Melindungi budaknya
Dan memberiku makan
Serta mencambukku
Dengan sedikit torehan emas
Membangun matahari dari air mata