Cari Blog Ini

Rabu, 25 Desember 2013

contoh rpp smp

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMP Negeri 229 Jakarta
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester : VII/ Semester Satu
Materi Pokok : Teks Hasil Observasi
Alokasi Waktu : 3 pertemuan (3 X 3 Jam Pelajaran)
A. Kompetensi Inti
1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli
(toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan
keberadaannya
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait
fenomena dan kejadian tampak mata
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan,
mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis,
membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang
dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
No.
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaian Kompetensi
1.
Menghargai dan mensyukuri keberadaan
bahasa Indonesia sebagai anugerah
Tuhan Yang Maha Esa untuk
mempersatukan bangsa Indonesia di
tengah keberagaman bahasa dan budaya
1.1.1   Terbiasa menggunakan bahasa
Indonesia di kelas dan di luar
kelas dengan baik dan benar
2.
2.1 Memiliki perilaku jujur, tanggung jawab,
dan santun dalam menanggapi secara
pribadi hal-hal atau kejadian berdasarkan
hasil observasi
2.1.1    Menunjukkan perilaku tidak menjiplak
pada kegiatan menulis teks
2.1.2    Selalu tepat waktu dalam menyelesaikan
tugas
2.1.3    Senantiasa menggunakan kata-kata ynag
tidak menyinggung perasaan orang lain
3.
3.2 Membedakan teks hasil observasi,
tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi,
dan cerita pendek baik melalui lisan
maupun tulisan
3.2.1   Membedakan teks hasil observasi
dengan teks deskripsi dilihat dari
struktur isi
3.2.2   Membedakan teks hasil observasi
dengan teks deskripsi dilihat dari
fitur bahasa
4.
4.2 Menyusun teks hasil observasi,
tanggapan deskriptif, eksposisi,
eksplanasi, dan cerita pendek sesuai
dengan karakteristik teks yang akan
dibuat baik secara lisan maupun tulisan
4.2.1   Menulis judul teks observasi
dengan tidak menyontek karya
orang lain
4.2.2   Menulis kalisifikasi umum teks
hasil observasi sesuai dengan
fakta yang ditemukan
4.2.3   Menulis deskripsi penciri teks
hasil observasi secara detail
sesuai dengan data yang
dikumpulkan

 














C. Tujuan Pembelajaran
1. Pertemuan ke-1
a. Diberi kesempatan mengamati teks hasil observasi dan deskripsi, peserta didik dapat
membedakan judul kedua teks tersebut dalam waktu yang ditentukan
b. Diberi kesempatan mencermati teks hasil observasi dan deskripsi, peserta didik dapat
menentukan struktur isi (klasifikasi umum, rincian deskripsi) kedua teks tersebut sesuai dengan
waktu yang ditetapkan.
c. Diberi kesempatan membaca teks hasil observasi dan deskripsi, peserta didik dapat
membedakan fitur bahasa teks hasil observasi dan deskripsi sesuai dengan teks yang dibaca.
2. Pertemuan ke-2
a. Disajikan objek pengamatan, peserta didik dapat mendata detail-detail
objek tersebut
b. Berdasarkan detail objek pengamatan, peserta didik dapat menyusun
kerangka teks observasi
3. Pertemuan ke-3
a. Berdasarkan kerangka teks observasi yang ditulisnya, peserta didik dapat
menyusun draf teks hasil observasi
b. Diberi kesempatan membaca draf teks hasil observasi karya sendiri,
peserta didik dapat menentukan kelemahan bagian struktur teks hasil
observasi ( judul, definisi umum, bagian deskripsi, dan penutup)
D. Materi Pembelajaran
1. Pertemuan ke-1
Pengenalan struktur teks hasil observasi dan deskripsi
Struktur isi:
· Judul
· Klasifikasi umum
· Deskripsi
Ciri Bahasa
· Penggunaan kata sifat
· Penggunaan kata kerja aksi
· Penggunaan istilah-istilah teknis
2. Pertemuan ke-2
Pengamatan objek
- Pemilihan objek
- pengumpulan detail objek
- Penyusunan kerangka teks
3. Pertemuan ke-3
Penyusunan teks hasil observasi
- Penyusunan draf teks hasil observasi
- Penentuan kelngkapan dan kebenaran struktur teks observasi
E. Metode Pembelajaran
Saintifik dan inkuiri
F. Sumber Belajar
· Mahsun, dkk. 2013. Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan untuk SMP/M.Ts.
   Kelas VII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, hlm. 3 s.d. 30.

· Tim Olvista. 2011. Komodo Reptil Warisan Zaman Purba. Tersedia di
    http://olvista.com/fauna/komodo-reptil-warisan-zaman-purba/ diunduh, Kamis,
    26 Juni 2013.
G. Media Pembelajaran
Model : Teks hasil observasi dan deskripsi, Puisi tentang alam
Gambar : Gambar lingkungan alam
Realita : Lingkungan sekolah
H. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
1. Pertemuan ke-1
a. Pendahuluan (12 menit )
1) Pendidik dan peserta didik bertanya jawab tentang lingkungan alam
berdasarkan puisi Tanah Kelahiran karya Ramadhan KH.
2) Guru dan peserta didik bertanya jawab tentang sifat baik orang yang
gemar mendokumentasikan keindahan lingkungan dalam bentuk
tulisan maupun gambar.
3) Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan.
4) Pendidik dan peserta didik menyepakatai langkah-langkah kegiatan
yang akan ditempuh untuk mencapai kompetensi.
b. Kegiatan inti (90 menit)
Mengamati
· Peserta didik mengamati teks hasil observasi dan deskripsi untuk
menemukan perbedaan struktur isi kedua teks tersebut
· Peserta didik secara mandiri mengamati teks observasi dan
deskripsi untuk menemukan fitur-fitur bahasa pada kedua teks
tersebut
Menanya
· Peserta didik dengan bimbingan guru mengajukan pertanyaan
dengan berpedoman dengan kata tanya apa, di mana, bagaimana,
mengapa sesuai dengan isi teks tersebut.
· Peserta didik mengajukan pertanyaan tentang bahasa yang
digunakan pada teks hasil obesrvasi dan deskripsi dengan
memperhatikan pilihan kata, jenis kata , dan kalimat.
Mengumpulkan data
· Peserta didik berkelompok terdiri atas 4-5 orang/ kelompok dengan
cara menyebut nama-nama benda/ tumbuhan untuk ditetapkan
sebagai nama kelompoknya.
· Kelompok peserta didik membaca sumber-sumber lain untuk
menentukan perbedaan struktur isi dan bahasa kedua teks tersebut.
Mengasosiasi
· Kelompok peserta didik mendiskusikan perbedaan struktur isi teks
hasil teks observasi dengan deskripsi tentang judul, klasifikasi
umum, dan rincian deskripsi
· Peserta didik secara berkelompok mendiskusikan perbedaan
bahasa yang digunakan pada teks hasil observasi dengan deskripsi
sesuai dengan data yang terdapat pada kedua teks tersebut
· Peserta didik membandingkan dan menyimpulkan perbedaan
struktur teks hasil observasi dengan deskripsi tepat waktu
· Peserta didik dalam kelompok membandingkan dan menyimpulkan
perbedaan bahasa yang digunakan dalam teks hasil observasi dan
deskripsi
Mengomunikasikan
· Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya tentang
perbedaan struktur isi teks observasi dengan deskripsi
· Kelompok lain menanggapi presentasi kelompok lain dengan
terlebih dahulu mengacungkan tangan
· Tanggapan kelompok memperhatikan pilihan kata yang tidak
menyinggung perasaan kelompok lain
· Dengan dibimbing pendidik, peserta didik menyimpulkan
perbedaan struktur isi dan bahasa teks hasil observasi dan deskripsi
c. Penutup (18 menit)
1) Peserta didik mengemukakan kesulitan dan kemanfaatan selama
pembelajaran berlangsung
2) Peserta didik menyampaikan usulan untuk perbaikan pembelajaran
berikutnya
3) Peserta didik menerima tugas membaca teks observasi deskripsi
4) Peserta didik menerima rencana kegiatan berikutnya berupa
mengamati suatu objek sebagai bahan menulis teks hasil observasi
2. Pertemuan ke-2
a. Kegiatan Pendahuluan (12 menit )
1) Peserta didik dan pendidik bertanya jawab tentang hasil membaca teks
hasil observasi
2) Peserta didik bercerita manfaat membaca teks hasil observasi dan
mengemukaan pandangannya tentang teks hasil observasi
3) Peserta didik menerima informasi tujuan kegiatan pembelajaran yang
akan ditempuh.
4) Peserta didik dan Pendidik menyepakati langkah-langkah kegiatan
yang akan dilakukan dalm pembelajaran.
b. Kegiatan Inti (90 menit)
Mengamati
· Peserta didik membaca teks hasil observasi
· Peserta didik menandai bagian-bagian teks hasil observasi
· Peserta didika menadandai pilihan kata yang merupakan penciri teks
hasil observasi
Mananya
· Peserta didik dalam kelompok mengajukan pertanya tentang tata cara
mengelompokkan data hasil observasi
· Peserta didik dalam kelompok mengajukan tata cara menyusun
kerangka teks hasil observasi
Mengumpulkan data
· Peserta didik berkelompok dalam 4 atau 5 orang per kelompok
dengan dipandu pendidik
· Setiap kelompok menerima tabel pengamatan dan alat teropong
dari kertas manila untuk mengamati objek                                                                                         

· Setiap kelompok mendapat tugas dan tempat yang berbeda di luar
kelas sebelum melakukan pengamatan di luar kelas
· Sebelum melakakukan pengamatan setiap kelompok
mengidentifikasi unsur-unsur penting yang akan diamati sesuai
dengan objek yang diamati, misalnya: tumbuhan, perlu ditentukan
(a) ciri fisik, (b) kondisi tempat tumbuh, (c) perilaku tumbuhan,
(d) karakteristik rinci dari tiap-tiap bagian, dan (e) proses
pertumbuhannya.
· Setiap kelompok mengamati objek menggunakan alat teropong
dan tabel pengamatan dengan sikap tidak berebut dan
berdesakan
Mengasosiasi
§ Semua anggota kelompok masuk ke ruang kelas belajar
· Setiap anggota kelompok menuangkan hasil pengamatannya pada
tabel pengamatan dipandu oleh salah seorang ketua kelompok
§ Masing-masing kelompok berdiskusi untuk menyusun kerangka teks
hasil observasi
Mengomunikasikan
· Masing-masing kelompok secara bergantian menyampaikan hasil
pengamatannya dengan pedoman pada strukutur teks observasi
menurut apa adanya dan kelompok lain menanggapi dengan kata-kata
yang tidak menyinggung perasaan orang lian
· Berdasarkan hasil pengamatan dan komentar kelompok lain, setiap
kelompok menyempurnakan kerangka penulisan teks observasi
· Pendidik memberikan penguatan struktur kerangka teks hasil
observasi dan tata cara menyusunnya
· Setiap peserta didik dalam kelompok menyempurnakan kerangka teks
hasil observasi berdasarkan masukan dan detail fata yang
diperolehnya
c. Kegiatan Penutup (18 menit)
1) Peserta didik mengemukakan pengalaman-pengalamannya selama
melakukan pengamatan dan perancangan penulisan pengembangan
kerangka penulisan.
2) Peserta didik menyampaikan struktur tulisan karya teman sendiri untuk
dibandingkan dengan struktur tulisan teman dalam kelompok.
3) Peserta didik dan Pendidik menyepakati strukur kerangka
pengembangan yang akan dijadikan penulisan teks observasi.
4) Peserta didik menerima tugas memperbaiki kerangka penulisan yang
telah dibuatnya.
5) Pendidik menyampaikan rancangan kegiatan berikutnya berupa tata
cara pengembangan kerangka penulisan teks observasi menjadi teks
observasi.
3. Pertemuan ke-3
a. Kegiatan Pendahuluan (12 menit )
1) Peserta didik dan Pendidik bertanya jawab tentang
keunggulan dan kelemahan teks observasi yang dibuatnya

2) Peserta didik membandingkan karya obeservasi yang
dibuatnya dengan teks observasi yang ditayangkan pendidik
kemudian membahas keuntungan-keuntungan menulis teks
observasi;
3) Peserta didik menerima informasi tentang tujuan
pembelajaran yang akan berlangsung;
4) Peserta didik dan pendidik bersepakat langkah-langkah
kegiatan yang akan digunakan untuk mencapai kompetensi.
b. Kegiatan Inti (90 menit)
Mengamati
1) Peserta didik duduk dalam kelompok seperti pada pertemuan
sebelumnya;
2) Peserta didik dalam kelompok membaca ulang dan
mencermati kerangka penulisan yang sudah diperbaiki;
Menanya
· Peserta didik dalam kelompok mengajukan pertanyaan
tentang kelengkapan struktur kerangka penulisan yang dibuat
masing-masing anggota
· Peserta didik dalam kelompok mengajukan pertanyaan
tentang tata cara menyempurnakan kerangka teks dan
pengembangannya menjadi teks hasil observasi
Mengumpulkan data
· Masing-masing peserta didik dalam kelompok mengumpulkan
kelengkapan data observasi sebagai bahan penulisan draf teks
hasil observasi.
· Bersama-sama kelompoknya, peserta didik mengumpulkan
pilihan kata penciri teks hasil observasi sesuai dengan struktur
isi
Mengasosiasi
· Masing-masing peserta didik dalam kelompok menulis draf
teks observasi berdasarkan kerangka yang telah dibuatnya.
· Peserta didik dalam kelompok membandingkan draf
tulisannya dengan draf tulisan teman dalam kelompok dengan
memperhatikan struktur isi.
· Peserta didik dalam kelompok membandingkan draf
tulisannya dengan draf tulisan teman dengan fokus
memperhatikan fitur bahasa yang digunakan.
Mengomunikasikan
· Masing-masing anggota kelompok dalam kelompok saling menukar
tulisan untuk dibaca dan dikomentari berdasarkan struktur isi teks
hasil observasi dan bahasa yang digunakan.
· Peserta didik memajang hasil draf hasil tulisannya sesuai dengan
kelompoknya masing-masing, kelompok lain menilai dengan
memperhatikan struktur isi dan fitur bahasa.


· Pendidik memberi penguatan tentang draf tulisan teks observasi
peserta didik sesuai bagian-bagian struktur teks hasil observasi dan
bahasa yang digunakan.
c. Penutup (18 menit)
1) Peserta didik menyampaikan rasa puas atau tidaknya
mengikuti kegiatan penulisan teks observasi dengan alasan
yang logis;
2) Peserta didik dan Pendidik menyimpulkan hasil pembelajaran
menulis teks observasi sesuai struktur teks yang dikuasai;
3) Pendidik memberi tugas mandiri memperbaiki draf tulisan
teks hasil observasi;
4) Peserta dan Pendidik merumuskan rencana pembelajaran pada
tahap berikutnya berupa penelaahan dan reviu teks hasil
observasi karya peserta didik.
I. Penilaian
1. Sikap spiritual
a. Teknik Penialaian : Observasi
b. Bentuk Instrumen : Lembar Observasi
c. Kisi-kisi
No
Indikator
 Butir Instrumen
1
Terbiasa menggunakan bahasa
Indonesia di kelas dan di luar
kelas dengan baik dan benar
Aspek lembar observasi
- Sikap menghargai
- Sikap bersyukur
Instrumen terlampir (Lampiran 1a)
2. Sikap Sosial
a. Teknik Penialaian : Observasi, Penilaian diri
b. Bentuk Instrumen : Lembar Observasi, Lembar Penilaian Diri
c. Kisi-kisi
No.
Indikator
Butir Instrumen
1
Selalu tepat waktu dalam menyelesaikan tugas untuk kegiatan
membedakan teks hasil observasi dengan deskripsi
Menyelesaikan tugas membaca
dengan sungguh-sungguh dan tepat
waktu (tanggung jawab)
2
Senantiasa menggunakan kata-kata yang tidak menyinggung
perasaan orang lain pada kegiatan menanggapi perbedaan
pendapat tentang teks hasil observasi dan deskripsi
Menanggapi simpulan perbedaan
yang disampaikan teman dengan
menggunakan intonasi dan pilihan
kata yang tidak menyinggung orang
lain (santun)
3
Menunjukkan perilaku tidak menjiplak pada kegiatan menulis
teks hasil observasi
Menuliskan hasil observasi
menjadi teks hasil observasi
karya sendiri sesuai dengan
detail data yang ditemukan
(jujur)
















Instrumen terlampir (Lampiran 1 b)
3. Pengetahuan
a. Teknik Penialaian : Tes tertulis
b. Bentuk Instrumen : Uraian

c. Kisi-kisi
No.
. Indikator
Butir Instrumen
1
Disajikan teks observasi
dan deskripsi, peserta didik
dapat
- Mengidentifikasi
perbedaan teks struktur
isi teks hasil observasi
dengan deskripsi
- Mengidentifikasin
perbedaan bahasa yang
digunakan pada teks
hasil observasi dan
deskripsi
Berdasarkan teks hasil observasi dan
deskripsi jelaskan ciri-ciri judul, klsifikasi
umum, dan deskripsi pada teks observasi
yang kamu baca!
Jelaskan ciri-ciri bahasa yang digunakan
dalam teks observasi dan deskripsi yang
kamu baca disertai bukti yang
mendukung jawabanmu!



Bacaan dan Rubrik penilaian terlampir (Lampiran 2)
4. Keterampilan
a. Teknik Penilaian : Proyek
b. Bentuk Instrumen : Rubrik penilaian
c. Kisi-kisi
No.
Keterampilan
Butir Instrumen
1
Disajikan ilustrasi tugas
pengamatan siswa dapat
menulis teks observasi dengan
bagian-bagian secara lengkap
sesuai struktur teks observasi
(judul, klasifikasi umum,
rincian deskripsi)
Disajikan ilustrasi tugas
pengamatan siswa dapat
menulis judul, klasifikasi
umum, rincian deskripsi
dengan isi yang sesuai hasil
pengamatan
Disajikan ilustrasi tugas
pengamatan siswa dapat
menulis judul, klasifikasi
umum, rincian deskripsi
dengan kalimat dan pilihan
kata secara tepat
Disajikan ilustrasi tugas
pengamatan siswa dapat
menulis judul, klasifikasi
umum, rincian deskripsi
dengan tanda baca dan ejaan
secara tepat
. Pilih salah satu objek observasi yang ada di
lingkunganmu!
2. Tentukan aspek-aspek yang diamati!
a. Jika yang diamati tumbuhan unsur yang harus
diamati meliputi (a) ciri fisik, (b) kondisi
tempat tumbuh, (c) perilaku tumbuhan, (d)
karakteristik rinci dari tiap-tiap bagian, dan (e)
proses pertumbuhannya. Kalian bisa
menambahkan unsur lain yang relevan.
b. Jika yang diamati benda-benda cindera mata,
benda tradisional khas, atau situs sejarah yang
ada di daerahmu, unsur yang diamati adalah
(a) ciri fisik (warna, motif, ukuran), (b) asal
muasal, dan (c) perkembangan/ variasi bentuk
cindera mata dari tahun ke tahun. Kalian bisa
menambahkan unsur lain yang relevan.
3. Kembangkan hasil observasimu menjadi teks
secara utuh dan beri judul yang sesuai!
Rubrik Penilaian Proyek terlampir (Lampiran 3)
Jakarta, 17 Juli 2013
Mengetahui
Kepala SMP 229 Jakarta                                                                                               , Pendidik,


Sabtu, 05 Oktober 2013

BILINGUALISME DAN DIAGLOSIA





Masyarakat tutur yang tertutup, yang tidak tersentuh oleh msyarakat tutur lain, entah karena letaknya yang jauh terpencil atau karena sengaja tidak mau berhubungan dengan masyarakat tutur yang lain, maka masyarakat tutur itu akan tetap menjadi masyarakat tutur yang statis dan tetap menjadi masyarakat yang monolingual. Sebaliknya, masyarakat tutur yang terbuka, artinya, yang mempunyai hubungan dengan masyarakat tutur lain, tentu akan mengalami apa yang disebut kontak bahasa dengan segala peristiwa-peristiwa kebahasaan sebagai akibatnya.
6.1 Bilingualisme
Istilah biligualism (Inggris: bilingulism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Secara harfiah istilah bilingualisme yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya (disingkat B1), dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (disingkat B2). Kemampuan menggunakaan kedua bahasa itu disebut bilingualitas.
Konsep umum bahwa bilingualisme adalah digunakannya dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian telah menimbulkan sejumlah masalah yang  biasa dibahas dalam bilingualisme. Masalah-masalah itu adalah (lihat juga Dittmar 1976 : 170) :
(1)   Sejauh mana taraf kemampuan seseorang akan B2 (B1 tentunya dapat dikuasai
dengan baik) sehingga dia dapa disebut sebagai eorang bilingual?
(2)   Apa yang dimaksud dengan bahasa dalam bilingualisme ini, apakah bahasa dalam pengertian langue, atau sebuah kode sehingga bisa termasuk sebuah dialek atau sosiolek?
(3)   Kapan seorang bilingual menggunakan kedua bahasa itu secara bergantian? Kaan dia harus menggunakan B1-nya, dan kapan pula dia dapat secara bebas untuk dapat menggunakannya BI-nya atau B2-nya?
(4)   Sejauh mana B1-nya dapat mempengaruhi B2-nya, atau sebaliknya, B2-ya dapat mempengaruhi B1-nya.
(5)   Apakah bilingualisme iu berlaku pada perseorangan (seperti disebut dalam konsep umum) atau juga berlaku pada satu kelompok masyaraka tutur?

Untuk dapat menjawab pertanyaan pertama, simak terlebih dahulu batasan-batasan mengenai bilingualisme yang dberika oleh beberapa orang pakar. Blommfield dalam bukunya Language (1933:56) mengatakan bahwa bilingualisme adalah “kemampuan eorang penutur unutk menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya” Jadi, menurut Blomfield ini seseorang disebut bilingual apabila dapat menggunakan B1 dan B2 dengan derajat yang sama baiknya. Berkenaan dengan konsep bilingualisme dalam kaitannya dengan menggunakan B2, Diebold (1968 : 10) menyebutkan adanya bilingualisme pada tingkat awal (incipient bilingualism), yaitu bilingualisme yang dialami oleh orang-orang, terutama anak-anak yang sedang mempelajari bahasa kedua pada tahap permulaan. Pada tahap ini bilingualisme itu masih sangat sederhana dan dalam tingkat rendah. Namun, tidak dapat diabaikan karena pada tahap inilah terletak dasar bilingualisme selanjutnya.
Pengertian bilingualisme akhirnya merupkan satu rentangan berjenjang mulai menguasai B1 (tentunya dengan baik karena bahasa ibu sendiri) ditambah tahu sedikit akan B2, ilanjutkan dengan penguasaan B2 yang berjenjang meningkat, sampai menguasai B2 itu sama baiknya dengan penguasaan B1. Kalau bilingualisme sudah sampai tahap ini maka berarti seorang penutur yang bilingual itu akan dapat menggunakan B1 dan B2 sama baiknya, untuk fungsi dan situasi apa saja dan dimana saja.    
Pertanyaan kedua, yaitu apakah yang dimaksud dengan bahasa dalam bilingualisme. Apakah bahasa itu sama dengan langue, atau bagaimana? Mengutip pendapat Bloomfield mengenai bilingualisme, yaitu kemampuan seorang penutur untuk menggunakan dua buah bahasa secara sama baiknya. Kalau yang dimaksud oleh Bloomfield bahwa bahasa itu adalah kode, maka berarti bahasa itu bukan langue, melainkan parole, yang berupa berbagai dialek dan ragam. Menurut pakar lain, Weirinch (1968 : 1) memberi pengertian bahasa dalam arti luas, yakni tanpa membedakan tingkat-tingkat yang ada di dalamnya. Bagi Weinrich menguasai dua buah bahasa dapat berarti mebguasai dua sistem kode, dua dialek atau ragam bahasa yang sama.
Dari pembicaraan di atas dapat kita lihat bahwa yang dimaksud dengan bahasa dalam bilingualisme itu sangat luas, dari bahasa dalam pengertian langue, seperti bahasa
Sunda dan bahasa Madura, sampai berupa dialek atau ragam dari sebuah bahasa 
Pertanyaan ketiga Kapan seorang bilingual menggunakan kedua bahasa itu secara bergantian? kapan dia harus menggunakan B1-nya, dan kapan pula dia dapat secara bebas untuk dapat menggunakannya B1-nya atau B2-nya. Pertanyaan ini menyangkut masalah pokok sosioinguistik, “siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan dan dengan tujuan apa”. B1 pertama dan terutama dapat digunakan dengan para anggota msyarakat tutur yang sama bahasanya dengan penutur. Jika B1 adalah penutur bahasa Sunda, maka dia akan dapat menggunakan bahasa Sunda dengan semua anggota masyarakat tutur yang berbahasa Sunda, tentunya untuk keadaan dan situasi yang memang dapt dilakukan dengan bahasa Sunda itu, seperti dalam percakapan sehari-hari didalam keluarga dan untuk topik pembicaraan yang biasa. Tetapi didalam pendidikan di sekolah meskipun si guru dan si murid sama-sama ber-B1 bahasa Sunda dia tidak dapat menggunakan bahasa Sunda itu untuk alat interaksi selama jam pelajaran berlangsung. Dalam hal ini bahasa Indonesialah yang dapat digunakan sebab bahasa Indonesia, yang juga menjadi B2 bagi guru dan murid-murid itu, adalah bahasa yang diberi fungsi untuk digunakan dalam situasi resmi kenegaraan, seperti dalam proses belajar mengajar itu. Tetapi bagi penutur bilingual yang B1-nya bahasa Sunda dan B2-nya bahasa Jawa hanya dapat mengunakan B2-nya itu kepada anggota masyarakat tutur bahasa Jawa. Kapan harus digunakan B1 dan kapan pula harus digunakan B2 tergantug pada lawan bicara, topik pembicaraan, dan situasi sosial pembicaraan. Jadi penggunaan B1 dan B2 ini tidaklah bebas. Dalam cacatan sosiolinguistik hanya didapati adanya satu masyarakat tutur bilangual yang dapat secara bebas menggunakan salah satu bahasa yang terdapat ddala masyarakat tutur itu, yaitu di Monreal, Kanada.
Masalah keempat yang dipertanyakan di atas menyangkut masalah sejauh mana B1-nya dapat mempengaruhi B2-nya, atau sebaliknya, B2-ya dapat mempengaruhi B1-nya. Pertanyaan ini menyangkut masalah kefasihan menggunakan kedua bahasa itu dan kesempatan untuk menggunakannya. Dalam keadaan penguasaan terhadap terhadap B1 lebih baik daripada B2, dan juga kesempatan untuk menggunakannya lebih luas, maka ada kemungkinan B1 si penutur akan mempengaruh B2-nya. Seberapa jauh pengaruh B2 adalah tergantung pada tingkat penguasaannya terhadap B2. Mungkinkah B2 seorang penutur bilingual akan mempengaruhi B1-nya? Kemungkinan itu akan ada kalau si penutur bilingual itu dalam jangka waktu yang cuku lama tidak menggunakan B1-nya, tetapi terus-menerus menggunakan B2-nya.
Masalah kelima yang  dipertanyakan di atas adalah apakah bilingualisme iu berlaku pada perseorangan (seperti disebut dalam konsep umum) atau juga berlaku pada satu kelompok masyaraka tutur? Pertanyaan ini menyangkut hakikat bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan di dalam masyarakat tutur bilingual. Mackey (1968:554-555) berpendapat bahwa bilingualisme bukan gejala bahasa, melainkan sifat pengguna bahasa yang dilakukan penutur bilingual secara berganti-ganti. Mackey juga mengatakan kalau bahasa itu milik kelompok atau milik bersama suatu masyarakat tutur, maka bilingualisme adalah milik individu-individu para penutur, sebab penggunaan bahasa secara bergantian oleh seorang penutur bilingual mengharuskan adanya dua masyarakat tutur yang berbeda, misalnya masyarakat tutur B1 dan masyarakat tutur B2 ; dan tidak mengharuskan adanya masyarakat tutur yang bilingual. Berbeda dengan Mackey, Oksaar (1972-478) berpendapat bahwa bilingualisme bukan hanya milik individu, tetapi juga milik kelompok. Mengapa? Sebab bahasa itu penggunaannya tidak terbatas antara individu-individu saja, melainkan juga digunakan sebagai alat komunikasi antarkelompok. Malah bahasa itu bukan sekedar alat komunikasi saja, melainkan juga sebagai alat untuk menunjukan identitas kelompok (Charer 1994). Konsep bahwa bahasa merupakan identitas kelompok memberikan peluang untuk menyatakan adanya sebuah masyarakat tutur yang bilingual, yang menggunakan dua buah bahasa sebagai alat komunikasinya. Masyarakat tutur yang demikian tidak hanya terbatas pada sekelompok orang, malah bisa wilaya yang sangat luas : mungkin juga meliputi satu negara.

6.2 Diaglosia
Kata diaglosia berasal dari bahasa Prancis diglossie, yang pernah digunakan Marcais, seorang linguis Prancis : tetapi istilah itu menjadi terkenal dalam studi linguistik setelah digunakan oleh seorang sarjana dar Stanford Univesity, yaitu C.A Ferguson tahun 1958 dalam suatu simposium tentang “Urbanisasi dan bahasa-bahasa standar” yang diselenggarakan oleh American Anthropological Askociation di Wasingthon DC. Kemudian Ferguson menjadikan lebih terkenal lagi istilah terebut dalam artikelnya yang berjudul “Diglosia” yang dimut dalam majalah Word tahun 1959.
Ferguson menggunakan istilah diglosia untuk menyatakan keadaan suatu masyarakat di mana terdapat dua variasi dari satu bahasa yang hidup berdampingan dan masing-masing mempunyai peranan tertentu. Ferguson membicarakan diglosia dengan mengambil contoh empat buah masyarakat tutur dengan bahasa mereka
 
Pemerolehan. Ragam T di peroleh dengan mempelajarinya dalam pendidikan formal, sedangkan ragam R diperoleh dari pergaulan dengan keluarga dan teman-teman sepergaulan. Oleh karena itu, mereka yang tidak pernah memasuki dunia pendidikan formal tidak akan mengenal ragam T sama sekali. Begitu juga mereka yang keluardari pendidikan formal kelas-kelas awal. Mereka yang mempelajari ragam T hamper tidak pernah menguasainya dengan lancar , selancar penguasaanya terhadap ragam R. Alasannya, ragam T tidak selalu digunakan, dan dalam mempelajarinya selalu terkendali dengan berbagai kaidahdan aturan tata bahasa; sedangkan ragam R digunaka n secara regular dan terus menerus didalam pergaulan sehari-hari. Dalam masyarakat diglosis banyak orang terpelajar menguasai dengan baik kaidah-kaidah ragam T, tetapi tidak lancar menggunakan ragam tersebut. Sebaliknya, mereka yang tidak tahu atau tidak pernah memperhatikan kaidah-kaidah tata bahasa ragam R, tetapi dengan lancar mereka dapat menggunakan ragam tersebut.
Standarnisasi. Karena ragam T dipandang sebagai ragam yang bergengsi, maka tidak mengherankan standarnisasi dilakukan terhadap ragam T tersebut melalui kodifikasi formal. Kamus tata bahasa ,petunjuk lafal, dan buku –buku kaidah untuk  penggunaan yang benar ditulis untuk ragam T. Sebaliknya ragam R tidak pernah diurus dan diperhatikan. Jarang ada kajian yang menyinggung adanya ragam R, atau kajian khusus mengenai ragam R  tersebut.
Stabilitas.kestabilan dalam masyarakat diglosis biasanay berlansung lama dimana ada sebuah variasi bahasa yangdipertahankan eksistensinya dalam masyarakat itu. pertentangan atauperbedaan antara ragam T dan ragam R dalam masyarakat diglosis selalu ditonjolkan karena adanya perkembangan dalam bentuk-bentuk campuran yang memiliki cirri-ciri ragam T dan R. Peminjaman unsure leksikal ragam T ke dalam ragam R bersifat biasa; tetapi penggunaan unsure leksikal ragam R dan ragam T kurang begitu biasa, sebab baru digunakan kalau sangat trepan ksa.ks dengan sejumlah konstruksi
Gramatika.  Ferguson berpandangan bahwa ragam T dan ragam R dalam diglosis merupakan bentuk-bentuk dari bahasa yang sama; namun, di dalam gramatika ternyata terdapat perbedaan. Dalam ragam T adanya kalimat-kalimat kompleks dengan sejumlah konstruksi  subordinasi  adalah hal yang biasa, tetapi dalam ragam R dianggap artificial.
Leksikon. Sebat gian besar kosa kata pada ragam T dan ragam R adalah sama. Namun, ada kosa kata pada ragam T yang tidak ada pasangan dalam ragam R atau sebaliknya. Ciri yang paling menonjol pada diglosia adalah adanya kosa kata yang berpasangan, satu untuk ragam T dan satu untuk ragam R, yang biasanya untuk konsep-konsep yang sangat umum. Umpamanya, dalam bahasa Yunani  “rumah” untuk ragam T adalah ikos dan untuk ragam R adalah spiti; “air” untuk ragam T adalah idhor dan untuk ragam R adalah nero; dan “anggur” untuk ragam T adalah inos sedangkan untuk ragam R adalah krasi. Menurut Ferguson dalam masyarakat diglosis hanya kosa kata ragam T yang bisa ditulis secara formal; dan hanya ragam R yang  hanya diharapkan dalam percakapan sehari-hari. Dalam bahasa Indonesia kita pun dapat mendaftarkan sejumlah kosa kata yang berpasangan sebagai baku dan tidak baku. Antara lain, uang dan duit, buruk dan jelek, istri dan bini, dan kurus dan lempeng.
Fonologi .dalam bidang fonologi ada perbedaan struktur antara ragam T dan ragam R. Fferguson menyatakan system bunyi ragam T dan ragam R sebenarnya merupakan sistem tunggal; namun, Fonologi T merupakan  system dasar, sedangkan fonologi R, yang beragam-ragam, merupakan subsistem atau parasistem. Fonologi lebih dekat dengan bentuk umum yang mendasari dalam bahasa secara keseluruhan. Fonologi R lebih jauh dari bentuk-bentuk yang mendasar.
Ferguson menyatakan bahwa suatu masyarakat diglosis bisa bertahan /stabil dalam waktu yang cukup lama meslipun terdapat “tekanan-tekanan” yang dapat melunturkannya. Tekanan-tekana itu antara lain, (1) meningkatkan kemapuan keaksaraan dan meluaskan komunikasi verbal pada satu Negara; (2) meningkatkan penggunaan bahasa tulis; (3) perkembangan nasionalisme dengan keinginan adanya sebuah bahasa nasional sebagai lambing kenasionalan suatu bangsa.
Juga dipersoalkan ragam mana yang akan dipilih menjadi bahasa nasional, ragam T atau ragam R. Menurut Ferguson para pendukung ragam T dan R tentu mempunyai argumentasi untuk menentukan ragam mana yang cocok untuk menjadi bahasa nasional tetapi biasanya ragam mana yang akan menang tidak mempunyai hubungan dengan argument-argumen itu. Dalam hal ini ada dua kemungkinan. Pertama, ragam R dapat menjadi bahasa nasional karena ragam itulah yang dipakai di dalam masyarakat; dan kedua, ragam T yang akan menjadi bahasa nasional atau bahasa standar, asal saja (1) ragam T itu sudah menjadi bahasa standar pada sebagian masyarakat , dan (2) apabla asyarakat diglosis itu menyatu dengan masyarakat lain. Jika teori Ferguson itu benar, maka bahasa Arab klasik tidak akan menjadi bahasa nasional dinegara Arab mana pun, meskipun diberi nama bahasa nasional atau bahasa resmi; dan ragam katherevusa akan menjadi bahasa nasional Yunani.
Menurut Fisman (1972;92) diglosia tidak hanya berlaku pada adanya pembedaan ragam T dan ragam R pada bhasa yang sama, melainkan juga berlaku pada bahasa yang sama sekali tidak serumpun, atau pada dua bahasa yang berlainan. Jadi yang menjadi tekanan bagi Fisman adalah adanya pembedaan fungsi kedua bahasa atau variasi bahasa yang bersangkutan.
Kalau Ferguson melihat diglosia hanya sebagai adanya pembedaan fungsi ragam T dan ragam R dalam sebuah bahasa, maka Fisman melihat diglosia sebagai adanya perbedaan fungsi, mulai dari dua buah bahasa yang berbeda. Jadi, di dalamnya termasuk perbedaan yang terdapat antara dialek, register, atau variasi bahasa secara fungsional (Fisman 1972).
Pakar sosiologi yang lain, yakni Fasold (1984) mengembangkan konsep diglosia ini menjadi apa yang disebutkan broad diglosia (diglosia luas). Di dalam konsep broad diglosia perbedaan itu tidak hanya antara dua bahasa atau dua ragam atau dua dialek secara biner, melainkan bisa lebih dari dua bahasa atau dua dialek itu. Dengan demikian termasuk juga keadaan masyarakat yang di dalamnya ada diperbedakan tingkatan fungsi kebahasaan, sehingga munculnya apa yang disebut pasold diglosia ganda dalam bentuk yang disebut double overlapping diglosia, double-nested diglosia, dan linear polyglosia.
Yang dimaksud dengan over  lapping diglosia adalah adanya situasi pembedaan derajat dan fungsi bahasa secara berganda. Sebagai contoh adalah situasi kebahasaan di Tanzania, seperti  yang dilaporkan Abdulaziz Mkilifi dan dikutip oleh Fasold (1984). Di Tanzania ada digunakan bahasa Inggris, bahasa Swahili, dan sejumlah bahasa daerah. Pada situasi, bahasa Swahili adalah bahasa T dan yang menjadi bahasa R-nya adalah sejumlah bahasa daerah. Pada situasi lain bahasa Swahili menjadi bahasa R, sedangakan bahasa T-nya adalah bahasa Inggris. Jadi, bahasa Swahili mempunyai status ganda: sebagai bahasa T terhadap bahasa Inggris.
Yang dimaksud dengan double-nested diglosia adalah keadaan dalam masyarakat multilingual, di mana terdapat dua bahasa yang diperbedakan: satu sebagai bahasa T, dan yang lain sebagai bahasa R. tetapi  baik bahasa T maupun bahasa R itu masing-masing mempunyai ragam atau dialek yang masing-masing juga diberi status sebagai ragam T dan ragam R. Sebagai contoh kita ambil keadaan kebahasaan di Khalapur,sebuah desa di utara Delhi, India. Dalam masyarakat tutur Khalapur ada dua bahasa, yaitu bahasa Hindi dan bahasa Khalapur, yaitu salah satu variasi bahasA Hindi dengan sejumlah persamaan dan perbedaan dalam bidang fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon. Bahasa Khalapur dipelajari di rumah, dan digunakan oleh setiap orang di desa untuk hubungan lokal sehari-hari. Sedangkan bahasa Hindi dipelajari di sekolah, atau melalui warga yang bermukim di kota, maupun melalui kontak luar, dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Khalapur adalah masyarakat diglosis dengan bahasa Hindi sebagai bahasa T, dan bahasa Khalapur sebagai bahasa R.
Untuk menjelaskan yang dimaksud dengan linear polyglosia Fasold mengemukakan hasil penelitian Platt (1977) mengenai situasi kebahasaan masyarakat Cina di kedua Negara itu mempunyai verbal repertoire yang terdiri dari bahasa Cina (yang antaranya dominan secara regional), bahasa Inggris formal (dan berbagai jenis bahasa Inggris Informal), bahasa melayu standar (bahasa Malaysia),dan bahasa Melayu bukan standar. Kalau kita mengitkuti pola yang terjadi di Khalappur,maka dapat dilihat ada tiga pasangan diglosia, yaitu (1) bahasa Cina yang dominan versus bahasa bahasa Cina yang tidak dominan, (2) bahasa Inggris formal versus bahasa Inggris  nonformal, dan (3) bahasa Melayu standar versus bahasa Melayu nonstandar. Konsep seoerti ini yang dipakai di Khalapur menghendaki bahwa bentuk R-nya bahasa yang mana pun mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada bentuk T bahasa yang lain dalam rangkaian itu seperti halnya bahasa Hindi R, yaitu Hindi percakapan lebih tinggi dari pada bentuk T bahasa Khalapur, yang disebut Saf Boli. Namun, hal ini tidak terjadi pada masyarakat orang Cina Malaysiayang terdidik dalam bahasa Inggris.
 Bahasa Melayu tinggi, yaitu bahasa Malaysia merupakan variasi linguistic tertinggi kedua yang digunakan dalam masyarakat itu. Sedangkan bahasa Melayu informal yang disebut bahasa melayu bazaar mempunyai kedudukan yang sangat rendah, berada di bawah bahasa manapu. Bahasa Inggris dan variasi bahasa Cina kedudukannya lebih tinggidari bahasa Melayu Bazar ini. Di samping itu terdapat bahasa Cina Mandarrin yang mempunyai kedudukan khusus, dan harus dimasukkan dalam deretan repertoire bahasa itu. Penataan terhadap repertoire bahasa-bahasa penduduk Cina yang berbahasa Inggris di Malaysia ini secara actual disebut linear polyglosia.

6.3 Kaitan Bilingualisme dan Diglosia
            Bagaimana hubungan antara diglosia dan bilingualisme sebenaranya secara tidak lansung sudah dibicarakan diatas. Di dalam masyarakat yang dikarakterisasikan sebagai masyarakat yang bilingualisme dan diglosia hampr setiap orang mengetahui ragam atau bahasa T dan ragam atau bahasa R. kedua ragam bahasa itu akan digunakan menurut fungsinya masing-masing, yang tidak dapat dipertukarkan. Contoh masyarakaat tutr bilingual dan diglosis adalah di paraguay.
Didalam masyarakat bilingualis tetapi tidak diglosis terdapat sejumlah individu yang bilingual, namun mereka tidak membatasi penggunaan satu bahasa untuk satu situsai dan bahasa lain untuk situasi yang lain pula. Jadi, mereka dapat menggunakan bahasa yang manapun untuk situasi an tujuan apa pun. Contoh masyarakat yang blilingual tetapi tidak disertai diglosia adalah monteral kanada dll.
Sebuah contoh bilingualisme tanpa diglosia dimana R sebelum ada T adalah I belgia yang berbahasa Jerman. Disana, peralihan kebahasa perancis dan bahasa jerman berlangsung dengan disertai meluasnya bilingualisme, dimana masing-masing bahasa dapat di gunakan untuk sebagai tujuan. Didalam masyarakat yang berciri diglosia tetapi tanpa bilingualisme terdapat dua kelompk penutur. Kelompok pertama yang biasa lebih kecil, merupakan kelompok rulling group yang hanyabicara dalam bahasa T. sedangkan kelompok kedua, yang biasanya lebih besar, tidak memiliki kekuasaan dalam masyarakat, hanya berbicara bahasa R. situasi diglosia tanpa bilingulisme banyak kita jumpai do eropa sebelum perag dunia pertama misalnya, dalam satu periode sejarah Czar Rusia, para bangsawan hanya berbicara dalam bahasa Perancis, sedangka masyarakat Rusia yang lebih luas hanya berbicara dengan bahasa rusia dengan berbagai dialeknya.
Didalam masyarakat yang tidak dan tidak bilingualisme tentu hanya ada satu bahasa dan tanpa variasi serta dapat digunakan untuk segala jenis tujuan. Keadaan ini hanya mungkin ada dalam masyarakat yang primitif atau terpencil yang dewasa ini tentunya sukar ditemukan.  



















TUGAS KELOMPOK 5
SOSIOLINGUISTIK
( BILNGUALISME DAN DIGLOSIA)
OLEH:
1.                     FACH RIZAL (A1D112012)
2.                     ANTI NINING (A1D112006)
3.                     ABDUL HARIS (A1D112)
4.                     L.M RAHMAT(A1D112)
5.                     RAFIATI (A1D112)




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2013





                                                                   

Kamis, 19 September 2013

puisi "sebelum matahari jatuh"

bangun sebelum semua terbangun
 menatap ke atas
bukan karena dirimu
bukan karena diriku
apa yan ku tahu
bukan urusanku
bukan urusan orang-orang di mentari sana
ini urusan Tuhan
bukan urusanku
kenapa aku begini
kenapa aku begitu
sebelum suara-suara itu berkumandang di telingaku
dengarkanla nyanyianku untukmu

Kamis, 02 Mei 2013

puisi "senja kebisingan"

lagu-lagu bertebaran di telingaku
bisik-bisikmu
kepadaku
aku dengar
aku dengar
cukup
membuat kegaduhan
kelaparan
sakit
tanpa arah
sampai akan kulepas
dan kembali berjalan
sebelum tulisan ini habis
dan termakan waktu