Cari Blog Ini

Kamis, 31 Desember 2015

2.1 Pengertian Morfologis




Chaer (2008: 3) secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf yang berarti bentuk  dan kata logi berarti ilmu. Jadi secara harfiah kata morfologi berarti “ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata”.
Bauer (dalam Ba’dudu dan Herman, 2010:  2), Morfologi membahas struktur internal bentuk kata. Dalam morfologi, analisis membagi bentuk kata ke dalam formatif komponennya (yang kebanyakan merupakan morf yang berwujud akar kata atau afiks). Menurut Rusmadji  (dalam Ba’dudu dan Herman, 2010: 3), morfologi mencakup kata , bagian-bagiannya, dan prosesnya.
5
 
O’Grady dan Dobrovolsky (dalam Ba’dudu dan Herman, 2010: 3), Morfologi adalah komponen tata bahasa generatif transformasional (TGT) yang membicarakan tentang struktur internal kata, khususnya kata kompleks. O’Grady dan Dobrovolsky membedakan antara teori morfologi umum yang berlaku bagi semua bahasa dengan morfologi khusus yang berlaku bahasa tertentu. Teori morfologi umum berurusan dengan pembahasan secara tepat mengenai jenis-jenis kaidah morfologi yang dapat ditemukan dalam bahasa-bahasa alamiah. Di pihak lain, morfologi khusus merupakan seperangkat kaidah yang merupakan fungsi ganda. Pertama, kaidah-kaidah ini berurusan dengan pembentukan kata baru. Kedua, kaidah-kaidah ini mewakili pengetahuan penutur asli yang tidak disadari tentang struktur internal kata yang sudah ada dalam bahasanya.
Dari beberapa teori para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah salah satu cabang linguistik yang mempunyai tugas untuk menelaah struktur dan pembentukan kata yang ada kaitannya dengan morfem.

Rabu, 14 Januari 2015

puisi "bibir sumbing"

Teriak tatkala tak mampu teriak
Berbicara hanya membuang tenaga
tutup telinga 
tutyp mata
Potong kakiku
gunakan saja tanganku
tapi kamu
apa bedanya dengan setan 
dengan setan yang berbisik
namun tak bisa dibisik

puisi "sayang"

Waktu berlalu begitu cepat
aku benci itu
Aku tak percaya waktu begitu singkat
Dmna sekuntum bunga layu
Bunga lainnya akn mekar
Dimna angin brhembus
Angin lainnya akn brhmbus lg
Tp akn kusimpan kenangan tentangmu slmanya
Walau aku pergi kesurga dan mlupknmu
Atw aku k neraka dan kau mlpknku 
Walau jika kt tak bisa saling mengingat dmnpun kt pergi
Aku akn menemkunmu dgn hatiq
Jd jika kau tmkan seorng pria yg brhnti mlngkh
Memandangimu dgn mata berkaca2
Dan jantungx mulai berdetak kencang saat dia memandangmu
Maka ingatlah 
I2 adalh aku
Aku menyayangimu

Selasa, 04 November 2014

repetisi, sinnim, antoim, kolokasi, hiponim, dan ekuivalen

1      repetisi adalah pengulangan satuan lingual yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Menurut Oktafianus (2006:63), repetisi merupakan pemunculan bentuk yang sama yang mengacu ke makna yang sama dalam suatu wacana. Repetisi memiliki berbagai peran seperti sebagai penegas, penciptaan gaya bahasa dan pengungkapan perasaan emosi, karenanya repetisi bukan hanya pengulangan bentuk tetapi berperan pragmatis yang maknanya bergantung pada konteks. Berikut ini adalah contoh adanya bentuk pengulangan di dalam teks yang bersifat sebagai penegas. Contoh :
Apa! Apa kau sudah gila Tono? Baru kemaren kau dari rumahku, sekarang kau mau minjam uang lagi. Apa kau sudah gila!
2        Sinonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atauhal yang sama atau ungkapan yang maknanya kurang lebih sama dengan ungkapan lain.Sinomini merupakan salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana. Contoh,  pahlawan – pejuang. Sinonim merupakan persamaan arti tetapi memiliki bentuknya berbeda. Kekayaan budaya dan intensitas kontak dengan bahasa lainnya menentukan warna persinoniman dalam suatu bahasa (Oktafianus, 2006:64). Contoh : Pola hidup masyarakat kota berbeda dengan masyarakat desa. Cara keseharian mereka disibukkan dengan pekerjaan kantor dan sebagainya.
3    Antonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang lain, satuan lingual yang maknanya berlawan/berposisi dengan satuan lingual yang lain. Contoh, putra – putri. Antonim adalah lawan kata. Suatu wacana yang dinamis juga sering menempatkan kohesi leksikal secara fleksibel dan variatif dengan mempertentangkan makna yang berlawanan (Oktafianus, 2006:64). Contoh : Tidak ada yang tidak mungkin sari, meskipun dia langit dan kamu bumi. Cinta sejati tidak akan memandang apapun.
4        Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasidalam menggunakan pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan. Contoh, buku, koran, majalah –media massa. Kolokasi merupakan persandingan kata. Kata-kata yang bersanding memilki satu atau lebih ciri yang sama. Misalnya buku, koran, majalah, dan media massa . Semua bentuk tersebut adalah kolokasi, karena sama-sama bahan bacaan.
5        Hiponim dapat diartikan sebagai satuan bahasa yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain. Contoh, angkutan darat –kereta api, bis, mobil. Menurut Oktafianus (2006:64), hiponim adalah hubungan kata-kata yang bersifat generik ke kata-kata yang lebih spesifik. Penggunaan hiponim dimaksudkan untuk menghindari pengulangan kata-kata yang sama muncul dan membentuk suatu medan makna sehingga ia dapat digunakan untuk membangun suatu wacana yang memiliki variasi bentuk leksikal. Contoh : Bayam, kangkung , dan kol . Semua sayuran itu adalah kesukaanku.

6 Ekuivalen ( kesepadanan) adalah hubungan kesepadanan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam sebuah paradigma. Dalam hal ini, sejumlah kata hasil proses afisasi dari morfem asal yang sama menunjuk adanya hubungan kesepadanan. Contoh, belajar, mengajar, pelajar, dan pengajaran.

Kamis, 28 Agustus 2014

“Rangkuman Pembinaan Bahasa Indonesia ”

A.    Pembinaan sikap berbahasa Indonesia
MMenumbuhkan dan membina sikap
 


 mMeningkatkan Mutu dan Disiplin penggunaan
M Meningkatkan kegairahan Penggunaan Bahasa Indonesia dengan Baik dan Benar

PpPembinaan bahasa Indonesia
                                                                                                                                                                                                                 








1.      Sikap Positif Terhadap Bahasa Indonesia
Kita sebagai warga masyarakat adalah Pembina bahasa Indonesia. Tujuan awal pembinaan bahasa Indonesia adalah menumbuhkan dan menimba sikap positif, yang antara lain berkaitan pada sikap kesetiaan berbahasa Indonesia dan sikap kebanggaan berbahasa Indonesia. Sikap kesetiaan berbahasa Indonesia berungkap jika kita lebih suka memakai bahasa Indonesia dan menjaga agar pengaruh asing tidak berlebihan.
Sikap positif bahasa Indonesia tidak berarti sikap kebahasaan yang kaku dan tertutup yang menuntut kemurnian bahasa Indonesia dan yang menutup bahasa Indonesia dari hubungan saling pengaruh dengan bahasa lain yaitu bahasa daerah dan bahasa asing di Indonesia terhadap kurang lebih 400 bahasa daerah. Tiap-tiap bahasa daerah itu mempunyai daya hidup dan masih berfungsi sebagai saran komunikasi antar warga masyarakat bahasa itu. Kenyataan lain yang harus diperhatikan adalah bahwa bahasa asing yang kita akui dan yang kita perlukan untuk dapat berhubungan dengan bahasa lain di dunia serta untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Hal itu tertentu saja berakibat bahwa pengaruh bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia semakin bertambah besar. Namun, jika pengaruh itu dalam tingkat kewajaran tidak perlu dikhawatirkan, apalagi jika hal itu merupakan pearuh positif yaitu pengaruh yang memperkaya bahasa Indonesia, baik dalam mutudan kelengkapannya. Apabila pengaruh bahasa Inggris atau pegaruh bahasa Indonesianya itu merupakan pengaruh negative yaitu pemakaan yang bukan diasarkan keperluan, melainkan untuk memberi kedudukan sosial untuk perlu dicegah. ( Halim, 1982 )

2.      Upaya meningkatkan kegairahan penggunaan bahsa Indonesia dengan Baik dan Benar
Kita bukan hanya berbekal sikap positif terhadap bahasa Indonesia, melainkan harus memiliki keinginan dan kegairahan menggunaakn bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Penggunaaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah penggunaan yang sesuai dengan lingkungan dan pemakaian bahasa, diperoleh ragam bahasa, baik lisan maupun tulisan. Jiak kita berkomunikasi secara lisan kita gunakan ragam lisan dan jika kita berkomunikasi secara tulisan kita gunakan ragam tulis. Demikian pula jika kita berkomunikasi secara lisan dalm keadaan tidak resmi, kita gunakan ragam lisan tidak resmi, jika kita berkomunikasi secara lisan dalam keadaan resmi seperti pada suatu seminar atau upacara resmi, kita gunakan ragam lisan resmi. Penggunaan ragam lisan resmi tergantung pada lingkungan dan situasi berbahasa. Dengan perkataan lain, penggunaa baha Indonesia dengan baik adalah penggunaan ragam-ragam bahasa Indonesia sesuai dengan kadaaan atau lingkungan komunikasi. Bahasa Indonesia daam komunikasi resmi terutama pada situasi formal, kedinasan, ilmiah dan kependidikan, adalah bahasa Indonesia baku adalah suatu ragam bahasa yang dikembangakan yang mempunyai kaidah yang mantap yang oleh masyarakat pemakai baasa dipakai sebagai acuan dalam penggunaannya.
Penguanaan bahasa Indonesia dengan benar adalah penggunaan yang disesuaikan denga kaidah bahasa Indonesia. Dalam ragam tulis, kaidah itu tertera pada buku (1) Pedoman umum Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan, (2) Pedoman umum pembentukan istilah, (3) Tatabahasa baku Bahasa Indonesia.
3.      Peran Serta Kita Dalam Meningkatkan Mutu dan disiplin Penggunaan dan Penguasaan Bahasa Indonesia      
Selain berperan serta meningkatkan kegairahan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, kita dituntut berperan serta dalam meningkatkan mutu dan disiplin pengguanaan serta penguasaan bahasa Indonesia.
Hal ini perlu dilaksanakan agar penggunaan bahasa Indonesia sesuaia degan perkembangannya.
Perkembangan itu tidak jarang membawa perubahan. Oleh karena itu upaya peningkatan mutu dan disiplin penggunaan bahasa Indonesiaharus merupakan kegiatan yang berkesinambungan, baik ada tingkat perseorangan maupun pada  tingkat kemasyarakatan. Kita sebagai pembina bahasa Indonesia hendaknya ikut berperan dalam mncapai tujuan pembinaan bahasa Indonesia.
Disamping siakap positif terhadap bahasa Indonesia sepert yang dikemukakan pada bagian awal juga terdapat bagain negatife. Sikap negatife berbahasa Indonesia penghambat pengembangan bahasa Indonesia yang meliputi (1) Sikap lata atau  ikut-ikutan, (2) Sikap memandam remeh bahasa Indonesia, (3) Sikap menerabas, dan (4) Sikap Enggan Bertangung jawab.
        
B.     Sasaran umum pembinaan bahasa Indonesia
            Bahasa Indonesia digunakan sebagai sarana dalam kegiatan manusia, seperti bidang kebudayaan, ilmu dan teknologi. Kebudayaan, ilmu dan teknologi berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Perkembangan kebudayaan, ilmu, dan teknologi itu membuat bahasa juga ikut berkembang. Selain itu, luas wilayah pemakaian bahasa Indonesia yang tersebar di pulau pula yang secara geografis terpisahkan oleh laut memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan di tiap-tiap daerah. Oleh karena itu, perlu diadakan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa yang berkesinambungan. Di dalam hasil rumusan Seminar Politik Bahasa Nasional (1999) disebutkan bahwa yang dimaksud pembinaan adalah upaya untuk meningkatkan mutu pemakaian bahasa. Usaha-usaha pembinaan ini mencakup upaya peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa. Usaha pembinaan yang dilakukan, antara lain, melalui pengajaran dan pemasyarakatan. Sedangkan, yang dimaksud dengan pengembangan adalah upaya meningkatkan mutu bahasa agar keperluan masyarakat terpenuhi
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam  pembinaan Bahasa Indonesia adalah tujuan, siswa, lingkungan yang meliputi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat  dan Sarana kurikulum, guru, metode,alat pengajaran dan evaluasi Tujuan maksudnya adalah tujuan pengajaran harus mencakup tiga asfek yaitu : pemahaman,keterampilan dan sikap. Secara operasional rumusan tujuan harus dapat dievaluasi sehingga dapat diketahui tujuan berhasil atau tidak. Murid adalah murid sebagai subjek didik harus diperhatikan, karena bagi murid yang baru pandai berbahasa Indonesia akan mempengaruhi stategi pembelajaran di kelas. Bagi murid yang sudah mahir berbahasa Indonesia maka guru akan lebih mudah dalam menyampaikan materi ajar dan cepat dapat dipahami murid. Lingkungan maksudnya lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sangat mempengaruhi.
Pengajaran Bahasa Indonesia yang akan mengajarkan anak terampil dan mahir berbahasa Indonesia harus diartikan sebagai berikut:
1.         Mengenalkan ciri-ciri berbagai bahasa Indonesia dan membangkitkan Bahasa Indonesia baku maupun non baku.
2.         Mengenalkan ciri-ciri fungsi berbagai variasi bahasa Indonesia sehingga pengajaran bahasa Indonesia lebih relevan untuk anak didik
3.         Mengajar menggunakan bahasa Indonesia yang tepat untuk fungsi yang tepat.
Komponen- komponen yang mempengaruhi keberhasilan pembinaan bahasa Indonesia  adalah sebagai berikut:
1.         Masyarakat Indonesia yang akan dibina.
2.         Proses pembinaan.
3.         Hasil pembinaan.
4.         Perangkat alat pembinaan.
5.         Keadaan masyarakat.
Kelima komponen diatas saling berhubungan satu dengan yang lainnya, jadi apabila ada satu komponen yang lemah maka akan mengganggu pencapaian tujuan. Komponen sasaran pembinaan adalah:
1.         Murid mampu mengungkapkan pikiran\pendapat dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.         Murid mampu menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidahnya.
3.         Murid bangga berbahasa Indonesia di lingkungan rumah maupun sekolah.
4.         Guru dan murid saling membudayakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
  Lingkungan
Sasaran lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat, sangat berpengaruh terhadap pembinaan pembelajaran bahasa indonesia. Oleh karena ketiga lingkungan itu dapat menunjang untuk pembinaan bahasa indonesia.
Keluarga subjek didik dikatakan untuk menunjang karena pada keluarga itu selalu mendorong subjek didik untuk belajar lebih giat. Setidaknya anggota keluarga menjadi cerminan bagi subjek didik untuk menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar. Disamping itu, hendaknya diciptakan kondisi sedemikian rupa, sehingga untuk belajar dan menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar. Misalnya, di dalam anggota keluarga disediakan majalah atau koran yang tergolong baik bahasa indonesianya.

Sekolah pun demikian juga, karena rasanya akan percuma saja diselenggarakan pengajaran bahasa indonesia apabila lingkungan sekolah atau pelajaran diluar bahasa Indonesia acuh tak acuh terhadap pemakaian bahasa indonesia. Oleh karena itu, sekolah hendaknya menciptaka kondisi yang dapat menunjang pengajaran bahasa indonesia misalnya, mengadakan penerbitan majalah,baik majalah tulis maupun majalah dinding, guru menggunakan bahasa yang benar sewaktu memberikan bimbingan kepada murid- muridnya, mengadakan latihan diskusi, pidato, baca puisi, dan drama

Masyarakat, tempat murid bergaul diluar keluarga dan sekolah pun harus menunjang suksesnya pengajaran bahasa indonesia. Terutama dalam pembinaan dilingkungan masyarkat yang tidak saja berfungsi sebagai komunikasi tetapi yang lebih penting lagi adalah bahasa indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Sasaran utama yang harus dilakukan adalah terlebih pembinaan lingkungan keluarga, sekolah dan masyarkat pada umumnya.
Kesadaran itu harus dimiliki jiwa masyarakat indonesia. Oleh karena itu, program pembinaannya harus terperinci dan jelas
1.     Tenaga pembinanya harus memiliki kemampuan berbahasa indonesia dan menjalankan fungsinya dengan baik
2.     Sarana yang ada untuk menunjang kelancaran pembinaan bahasa indonesia
Untuk memenuhi sasaran dan kelancaran pembinaan bahasa indonesia maka kondisi lingkungan masyarakat harus diperhatikan terutama kondisi sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarkat. Hal ini dilakukan untuk dijadikan sebagai titik pangkal pelaksanaan pembinaan bahasa indonesia.

Selain itu itu sasaran pembinaan bahasa indonesia yang diutamakan dalam pemakaian bahasa indonesia  dalam rangka bagaimana pembinaan bahasa indonesia yang diharuskan untuk memakai bahasa indonesia yang baik dan benar dan menggunakannya sesuai kedudukan dan fungsinya. 

















TUGAS  INDIVIDU


Pembinaan dan pengembangan bahasa indonesia
“Rangkuman Pembinaan Bahasa Indonesia ”



   OLEH :

FACH RIZAL
A1D1 12 012




JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI

2014

Selasa, 08 Juli 2014

Hujan, pergi kuliah atau tidak?


Dikalangan mahasiswa hujan hujan hujan merupakan cuaca yang kurang baik. Mengapa? Kurang baik bagi mahasiswa yang mau ke kampus. Apalagi kalau kuliahnya jam 08.00 dan entah kapan redahnya pasti bikin pusing. Untuk yang pergi jalan kaki pasti tinggal buka payung tunggu angkutan umum atau ojek. Dan pasti sampai di kampus masih keadaan kering. Tapi bagaimana kalau yang bawa kendaraan. Kalau yang mengendarai kendaraan roda empat seperti mobil bukan masalah besar tapi bagaimana kalau yang mengendarai  kendaraan roda dua seperti motor tidak mungkin sambil kendarai motor pegang payung.
Apalagi kalau ternyata hujannya bertambah deras, wah pasti membuat kesal. Untuk itu ada beberapa tips jika menggunakan sepeda motor ke kampus saat hujan, yaitu:
1.      Pertama siapan jas hujan. Jas hujan wajib ada agar tetap kering.
2.      Kedua pakai sandal dan sepatu ditaruh dalam kantung atau bias juga ditaruh dalam bagasi. Selain agar sepatu tidak basah ini juga berguna jika di perjalanan ada jalanan yang berlubang, macet, dan banjir agar sepatu tidak basah.
3.      Pakai switer atau pakaian penghangat jenis lainnya agar tidak kedinginan.
4.      Dan yang terakhir jangan lupa pakai helm selain melindungi dari benturan juga dari air hujan.  


Sabtu, 05 Juli 2014

Kenapa tidak bisa menulis ?



Bagi sebagian orang menlis itu sulit. Apalagi ketika membaca novel atau buku jenis lainnya pasti muncul pertanyaan bagaimana cara menulisnya.
Kenapa tidak bias menulis ? Padahal menulis itu mempunyai banyak manfaat seperti sebagai sarana ekspresi diri dan sebagai mata pecarian.
Menjadi seorang penulis harus didahului rajin membaca. Mengapa? Menulis apapun itu selalu membutuhkan ilmu-ilmu yang berasal dari pengalaman yang pernah dialami, bahan bacaan, dan lain-lain. Bahan bacaan itu merupakan salah satu referensinya. Terkadang ketika duduk sambil bersantai ataupun dalam suasana genting muncul ide-ide atau gagasan-gagasan kreatif dan inovatif. Ide dan gagasan ini merupakan salah satu hasil dari rajin membaca. Ide dan gagasan ini tidaklah harus benar-benar baru. Intinya adalah menulis dari hal dari yang sederhana terlebih dahulu.
Selain rajin membaca, agar ide itu tidak hilang tulis. Untuk menulis bukanlah harus khusus dari lingkungan kebahasaan. Sebut saja mantan pelatih Manchester United “Sir Alex Fergusson” yang berlatar belakang dari  dunia sepak bola bias menulis sebuah buku. Kenapa kita tidak bisa?



Selasa, 28 Januari 2014

contoh membaca kritis

Waspada Perhiasan Beracun
Cantik itu menyakitkan. Pormeo itu bisa saja terjadi bila pengagum perhiasan itu tak teliti saat membelinya. Niat hati ingin cantik, malah penyakit yang melirik. Hal ini disebabkan adanya bahan-bahan beracun yang menempel di perhiasan, utamanya yang harganya murah.
The Ecology Center, California, AS menyelenggarakan penelitian dengan membeli sejumlah perhiasan dari beberapa tempat di AS. Salah seorang peneliti, Jeffrey Weidenhamer, ahli kimia dari Ashland University, menemukan, dari 99 perhiasan tadi, 25 persen di antaranya mengandung bahan berbahaya di atas batas yang ditentukan oleh komisi perlindungan kosumen. Bahan berbahaya tadi, antara  lain timbal, kadmium, kromium, merkuri, dan arsenik.
Bahan berbahaya tadi terendus melalui pemindaian sinar-X. Penelitian ini juga menemukan adanya kandungan logam yang mudah meleleh pada perhiasan. Bahan-bahan beracun tadi amat beresiko mengontaminasi anak-anak sebab merekalah yang acap tertarik membelinya. Efek langsung yang bisa ditimbulkan adalah gatal dan iritasi pada kulit.
1.      Ide pokok
Niat mempercantik diri dengan perhiasan ternyata bisa berdampak menyakitkan karena tidak semua perhiasan itu aman untuk digunakan karena mengandung bahan-bahan beracun melewati batas yang ditentukan komisi perlindungan konsumen.
2.      Implikasi ide pada kesimpulan baru
Penggunaan perhiasan untuk mempercantik diri atau pun untuk kepentingan yang lain sekarang harus teliti. Perhiasan terutama yang harganya murah belum tentu aman untuk digunakan karena sebagian perhiasan mengandung bahan berbahaya.
3.      Penilaian
Saya setuju dengan cantik itu menyakitkan untuk para pengagum perhiasan jika tak teliti saat membelinya. Sebab efek langsung seperti gatal dan iritasi pada kulit yang merasakan pasti si pemakai perhiasan yang mengandung bahan beracun yang jika dibiarkan terus-menerus akan berbahaya untuk si penggunanya.
4.      Sebab akibat
a.       Sebab dari penggunaan perhiasan yang tak teliti saat membelinya, malah bisa mengakibatkan bukan cantik tapi penyakit 
b.      Sebab dari pemakaian perhiasan yang beracun terutama penggunaan untuk anak-anak akibatnya sangat beresiko untuk kesehatan
5.      Organisasi dasar tulisan
a.       Pembukaan berisi tentang pengantar bahwa perhiasan itu bisa menimbulkan penyakit
b.      Isi berisi tentang alasan-alasan mengapa perhiasan ini dapat menimbulkan penyakit bagi si penggunanya.
c.       Penutup berisi tentang siapa yang paling rentan menggunakan perhiasan beracun ini dan efek langsung yang bisa ditimbulkan
6.      Dampak
Dampak dari pemakaian perhiasan yang mengandung bahan-bahan beracun bukan cantik tapi penyakit terutama penyakit kulit.
7.      Kesimpulan
Sebelum membeli perhiasan hendaknya telitilah perhiasan tersebut bukan karena cantik atau buruknya ataupun mahal atau murahnya perhiasan tersebut tetapi apakah aman untuk dipakai dan tidak mengganggu kesehatan sebab tidak semua perhiasan aman digunakan karena mengandung racun terutama perhiasan yang hargnya murah.


   







TUGAS MEMBACA LANJUT

MEMBACA KRITIS


OLEH :
FACH RIZAL (A1D112012)

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2013


Rabu, 25 Desember 2013

contoh rpp sma

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas/Semester : X/1/Wajib
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Topik : Komunikasi dalam Kehidupan
Alokasi Waktu : 3 JP @ 45 menit
A. Kompetensi Inti
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghayati dan mengamalkan prilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong
royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan
sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural
berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaran, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
mintanya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
B. Kompetensi Dasar
1.1 Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan
menggunakannnya sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa
2.1 Menunjukkan sikap tanggung jawab, peduli, responsif, dan santun dalam
menggunakan bahasa Indonesia untuk membuat anekdot mengenai permasalahan
sosial, lingkungan, dan kebijakan publik
3.1 Memahami struktur dan kaidah teks anekdot, laporan hasil observasi, prosedur
kompleks, dan negosiasi baik melalui lisan maupun tulisan
4.1 Menginterpretasi makna teks anekdot, eksposisi, laporan hasil observasi,
prosedur kompleks, dan negosiasi baik secara lisan maupun tulisan
Indikator Pencapaian Kompetensi
· Menjelaskan struktur teks anekdot dan kaidah anekdot.
· Menceritakan kembali teks anekdot yang dibaca
· Melakukan role play berdasarkan teks anekdot
C. Tujuan Pembelajaran
· Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa dapat mensyukuri anugerah Tuhan
akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannnya sesuai dengan kaidah dan
konteks untuk mempersatukan bangsa.
· Selama dan setelah proses pembelajaran, siswa memiliki dan menunjukkan sikap
tanggung jawab, peduli, responsif, dan santun dalam menggunakan bahasa Indonesia
untuk membuat anekdot mengenai permasalahan sosial, lingkungan, dan kebijakan
publik.
· Setelah membaca contoh teks anekdot dan mendiskusikannya, siswa dapat memahami
struktur dan kaidah teks anekdot, baik melalui lisan maupun tulisan.
· Setelah berdiskusi dan berlatih, siswa dapat memproduksi teks anekdot dengan
karakteristik teks yang akan dibuat baik secara lisan mupun tulisan.



D. Materi Pembelajaran
Teks Anekdot, stuktur dan kaidah teks anekdot
E. Metode Pembelajaran
Metode diskusi kelompok,tanya jawab dan Penugasan
F. Media,alat dan sumber pembelajaran
· Buku Guru dan Siswa, lembar kerja,contoh teks anekdot
G. Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Pertama
a. Kegiatan Pendahuluan
1) Siswa merespon salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi
dan pembelajaran sebelumnya
2) Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan
pembelajaran yang akan dilaksanakan.
3) Siswa menerima informasi kompetensi, meteri, tujuan, manfaat, dan langkah
pembelajaran yang akan dilaksanakan
b. Kegiatan Inti
1) iswa memprediksi isi teks secara berpasangan/berkelompok dari judul yang ditulis
guru di papan tulis
2) Guru membagikan teks anekdot dan meminta siswa membaca teks (MENGAMATI)
3) Guru meminta siswa membuka buku siswa mengenai teks anekdot
4) Guru membagi lembar kerja yang berisi pertanyaan-pertanyaan berupa struktur
teks,kaidah kebahasaan dan isi teks (gambaran umum /terperinci teks,
siapa/apa/dimana/mengapa/bagaimana tentang teks yang dibaca )
5) siswa mengerjakan lembar kerja secara berkelompok dengan merujuk pada
informasi buku siswa dan menanyakan hal yang belum dipahami (MENANYA)
6) Guru memonitor kerja kelompok dan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa
sepanjang kerja kelompok (MENANYA)
7) Guru meminta satu siswa sebagai ‘wakil’ kelompok untuk melaporkan hasil diskusi
dari lembar kerja kepada kelompok lain.
8) Wakil kelompok akan melaporkan hasil kerja kelompoknya pada 1 kelompok saja.
Wakil menemukan perbedaan dan persamaan jawaban di lembar kerja dengan
kelompok tersebut. Wakil kelompok kemudian melaporkan tugasnya pada
kelompoknya semula (MENGASOSIASI)
9) Siswa melaporkan hasil kerja dalam diskusi kelas dengan bimbingan guru
(MENGKOMUNIKASIKAN)
c. Kegiatan Penutup
1) Meminta siswa menyimpulkan apa yang telah dipelajari hari itu (apakah sesuai
dengan tujuan pembelajaran) secara tertulis maupun lisan.
2) Mengecek pemahaman siswa atas pencapaian kompetensi secara tertulis
3) Menugaskan siswa mencari dan membaca teks anekdot lain di rumah
Pertemuan Kedua
a. Kegiatan Pendahuluan
Siswa menrespon salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan
pembelajaran sebelumnya
Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan
pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Siswa menerima informasi kompetensi, materi, tujuan, manfaat, dan langkah pembelajaran
yang akan dilaksanakan
b. Kegiatan Inti
1) Meminta siswa menyiapkan teks anekdot yang telah dibawa dan dibaca siswa
2) Meminta siswa mengerjakan lembar kerja yang berisi struktur teks dan kaidah teks
anekdot dalam kelompok 3-4 orang (MENGAMATI)
3) Mendiskusikan secara kelompok tugas yang ada di lembar kerja.Secara mandiri
mengisi lembar kerja berdasarkan teks anekdot yang dibacanya (MENGAMATI)
4) Menanyakan hal-hal yang belum dipahami baik dari teks maupun tugas dari lembar
kerja (MENANYA)

5) Guru mengingatkan siswa mengenai struktur teks dan kaidah kebahasaan teks anekdot
6) Meminta siswa dalam kelompok membandingkan hasil kerja mandiri masing-masing
anggota
7) Wakil siswa melaporkan hasil diskusi kelompok kepada kelas
8) Guru meminta siswa menceritakan kembali isi teks anekdot yang dibaca secara lisan
dan berpasangan. Guru meminta siswa melakukan penilaian sebaya dengan
kriteria/rubrik yang telah disiapkan guru (ketepatan struktur dan kaidah teks anekdot
dll).
9) Secara berpasangan, siswa menceritakan kembali isi teks anekdot yang dibaca.
10) Siswa mengumpulkan hasil penilaian sebaya
11) Guru meminta siswa menceritakan kembali teks anekdot yang didengar dari
pasangannya secara tulis.
c. Kegiatan Penutup
1) Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran
2) Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan
3) Siswa menyimak informasi mengenai rencana tindak lanjut pembelajaran
Pertemuan Ketiga
a. Kegiatan Pendahuluan
1) Siswa menrespon salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi
dan pembelajaran sebelumnya
2) Siswa menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan
pembelajaran yang akan dilaksanakan.
3) Siswa menerima informasi kompetensi, materi, tujuan, manfaat, dan langkah
pembelajaran yang akan dilaksanakan
b. Kegiatan Inti
1) Guru menyediakan beberapa teks anekdot (sejumlah kelompok) sesuai topik
2) Siswa secara berkelompok membaca teks anekdot yang dibagikan guru
3) Guru meminta siswa dalam kelompok menganalisis teks anekdot (struktur dan
kaidah kebahasaan teks)
4) Siswa melaporkan hasil diskusi
5) Guru meminta siswa membuka dan membaca buku siswa. Guru meminta siswa
dalam kelompok mengubah teks anekdot ke dalam dialog dan melakukan ‘role play
6) Sebelum melakukan role play, guru dan siswa mendiskusikan beberapa kriteria
untuk melakukan penilaian (contoh kesesuaian dengan struktur teks, kaidah teks,
pilihan kata,pengucapan dll)
7) Siswa dalam kelompok mengubah teks anekdot ke dalam dialog
8) Siswa melakukan penilaian sebaya (peer assessment) saat bermain peran
berdasarkan teks anekdot berdasarkan kriteria yang telah dikomunikasikan guru dan
disepakati dengan siswa
c. Kegiatan Penutup
4) Siswa bersama guru menyimpulkan pembelajaran
5) Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan dan menuliskan
kesulitan-kesulitan dalam pencapaian kompetensi dasar
6) Siswa menyimak informasi mengenai rencana tindak lanjut pembelajaran
H. Penilaian
PengamatanProsesLembar
PengamatanHasil penilaian
nomor 1 dan 2
untuk masukan
pembinaan dan
informasi bagi
Guru Agama
dan Guru PKn
PengamatanProsesLembar
PengamatanHasil penilaian
nomor 1 dan 2
untuk masukan
pembinaan dan
informasi bagi
Guru Agama
dan Guru PKn
PengamatanProsesLembar
PengamatanHasil penilaian
nomor 1 dan 2
untuk masukan
pembinaan dan
informasi bagi
Guru Agama
dan Guru PKn
PengamatanProsesLembar
PengamatanHasil penilaian
nomor 1 dan 2
untuk masukan
pembinaan dan
informasi bagi
Guru Agama
dan Guru PKn
No
Aspek yang dinilai
Teknik
Penilaian
Waktu
Penilaian
Instrumen
Penilaian
Keterangan
1.
Religius
Pengamatan
Proses
Lembar
Pengamatan
Hasil penilaian
nomor 1 dan 2
untuk masukan
pembinaan dan
informasi bagi
Guru Agama
dan Guru PKn
2.
Tanggung jawab
3.
Peduli
4.
Responsif
5.
Santun
 
 
1. Penilaian proses






Indikator Pencapaian
Kompetensi
Teknik
Penilaian
Bentuk
Penilaian
Instrumen
Mengetahui struktur teks
anekdot
Tes tertulis
Isian
1. Jelaskan struktur teks anekdot!
Mengetahui kaidah teks
anekdot
Tes tertulis
Isian
2. Sebutkan kaidah teks anekdot!
Memproduksi teks
anekdot secara tulisan
Unjuk kerja
Keterampilan
tertulis
2. Pilihlah salah satu tema berikut ini
(permasalahan sosial, lingkungan, dan
kebijakan publik). Kemudian, tulislah
teks anekdot berdasarkan tema yang
Anda pilih!
Memproduksi teks
anekdot secara lisan
Unjuk kerja
Keterampilan
tertulis
3. Sampaikanlah anekdot yang telah
Anda tulis secara lisan dengan
mengunakan bahasa Indonesia sesuai
kaidah dan konteks!

 
2. Penilaian Hasil








Kunci Jawaban
1. Struktur teks anekdot
a. abstract, berupa isyarat akan apa yang diceritakan berupa kejadian yangtidak
lumrah, tidak biasa, aneh, atau berupa rangkuman atas apa yang akan
diceritakan ataudipaparkan teks;sifatnya opsional.-
b. orientation, pendahuluan atau pembuka berupa pengelanalan tokoh, waktu,dan
tempat.
c. events, rangkaian kejadian/peristiwa.
d. krisis, pemunculan masalah.
e. reaction, tindakan atau langkah yang diambil untuk merespon masalah.
f. coda, perubahan yang terjadi pada tokoh dan pelajaran yang dapat dipetik dari
cerita; sifatnya opsional.
g. reorientation, penutup—ungkapan-ungkapan yang menunjukkan ceritasudah
berakhir.
2. Kaidah teks anekdot
a. Menggunakan waktu lampau, seperti: saya menemukannya semalam.
b. Menggunakan pertanyaan retorika, seperti: Apakah kamu tahu?
c. Menggunakan kata sambung (konjungsi) waktu, seperti: kemudian, setelah itu,
dll.
d. Menggunakan kata kerja, seperti: pergi, tulis, dll.
e. Menggunakan kalimat perintah
f. Menggunakan kalimat seru
Pedoman Penskoran
1.    
Aspek
Skor
Siswa menjawab benar semua
6
Siswa menjawab benar 6
5
Siswa menjawab benar 5
4
Siswa menjawab benar 4
3
Siswa menjawab benar 3
2
Siswa menjawab benar 2
1
SKOR MAKSIMAL
6

 
Soal nomor 1










2.     Soal nomor 2
Aspek
Skor
Siswa menjawab benar semua
5
Siswa menjawab benar 5
4
Siswa menjawab benar 4
3
Siswa menjawab benar 3
2
Siswa menjawab benar 2
1
SKOR MAKSIMAL
5

 
                       






3.     Soal nomor 3
No.
.
Kunci/Kriteria jawaban/Aspek yang dinilai
Tingkat
Skor
1
.
Isi
Amat memahami; amat luas dan lengkap; amat terjabar; amat sesuai
dengan kutipan.
Memahami; luas dan lengkap; terjabar; sesuai dengan kutipan,
meskipun kurang terinci.
Memahami secara terbatas; kurang lengkap; kurang terjabar; kurang
terinci.
Tidak memahami isi; tidak mengena.
Amat baik
Baik
Sedang
Kurang
27 – 30
22 – 26
17 – 21
13 – 16
2.
Organisasi
Amat teratur dan rapi; amat jelas; kaya akan gagasan; urutan amat
logis; kohesi amat tinggi.
Teratur dan rapi; jelas; banyak gagasan; urutan logis; kohesi
tinggi.
Kurang teratur dan rapi; kurang jelas; kurang gagasan; urutan
kurang logis; kohesi kurang tinggi.
Tidak teratur; tidak jelas; miskin gagasan; urutan tidak logis; tidak
ada kohesi.
Amat baik
Baik
Sedang
Kurang
18 –20
14 – 17
10 – 13
7-9
3.
Kosakata dan Diksi
Amat luas; penggunaan amat efektif; amat menguasai pembentukan
kata; pemilihan kata amat tepat.
Luas; penggunaan efektif; menguasai pembentukan kata; pemilihan
kata yang tepat.
Terbatas; kurang efektif; kurang menguasai pembentukan kata;
pemilihan kata kurang tepat.
Seperti terjemahan; tidak memahami pembentukan kata; tidak
menguasai kata-kata.
Amat baik
Baik
Sedang
Kurang
18 –20
14 – 17
10 – 13
7 – 9
4.
Bahasa (Tata Bahasa dan Struktur)
Amat menguasai tata bahasa; amat sedikit kesalahan penggunaan
dan penyusunan kalimat dan kata-kata.
Penggunaan dan penyusunan kalimat sederhana; sedikit kesalahan
tata bahasa tanpa mengaburkan makna.
Kesulitan dalam penggunaan dan penyusunan kalimat sederhana;
kesalahan tata bahasa yang mengaburkan makna.
Tidak menguasai penggunaan dan penyusunan kalimat ; tidak
komunikatif.
Amat baik
Baik
Sedang
Kurang
22 – 25
18 – 21
11 – 17
5 – 10
5.
Penulisan (Ejaan dan Tanda Baca)
Amat menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan.
Menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan, dengan sedikit
kesalahan.
Kurang menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan, dengan banyak
kesalahan.
Tidak menguasai kaidah penulisan kata dan ejaan, tulisan sulit
dibaca.
Amat baik
Baik
Sedang
Kurang
                           
       5
       4
       2
       3

















 











































No.
Kunci/Kriteria jawaban/Aspek yang dinilai
Tingkat
Skor




6.
Kerapian
Terbaca, bersih dan rapi.
Terbaca, bersih, tapi tidak rapi.
Terbaca, tidak bersih dan tidak rapi.
Tidak terbaca, tidak bersih, dan tidak rapi.
Amat baik
Baik
Sedang
kurang
5
4
3
2

 









4.     Soal nomor 4
HAL-HAL YANG DIAMATI
Kesesuaian
5… Sesuai dengan kaidah dan struktur
3… Sebagian sesuai dengan kaidah dan struktur
1… Tidak sesuai dengan kaidah dan struktur

Kelengkapan (ada bagian awal-tengah-akhir)
5… ada bagian awal-tengah- akhir
3 … Ada bagian awal-tengah atau tengah-akhir
Kelogisan
5……alasan mendukung pernyataan
3……alasan kurang mendukung pernyataan
1……alasan tidak mendukung pernyataan
Kelancaran dan Keruntutan
5… Tidak tersendat-sendat sehingga mudah diikuti
3… Beberapa kali tersendat-sendat/ berhenti untuk berpikir
1… Selalu berhenti untuk mengingat-ingat
Penggunaan Bahasa
5… Bahasa komunikatif dan sederhana, tidak menghafal
3… Struktur kalimat terlalu panjang sehingga sukar dipahami
1… Kalimat rumit dan tidak logis
Pelafalan dan Intonasi
5… Pelafalan jelas dan tepat, intonasi bervariasi
3… Pelafalan jelas dan tepat tetapi intonasi monoton
1… Pelafalan tidak jelas dan tepat, intonasi monoton
Penampilan
3… Gerakan tubuh bermakna dan mendukung isi
2… Beberapa gerakan kurang sesuai dengan isi
1… Banyak gerakan yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan isi

Artikel
I. Sumber Belajar
· Waluyo, Herman J. 2001. Apresiasi Puisi dan Pengajarannya. Jakarta: Gramedia
· Contoh teks puisi
· Panduan Lengkap Menulis Kreatif, penulis Didik Komaidi

--------------------------, ---------------------




Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
-----------------------------------